(Analisis Skenario Kebijakan Swasembada Gula Indonesia) Indonesian Sugar Self-Sufficiency Policy Scenario Analysis

251 Pages Posted: 2 Oct 2017 Last revised: 10 Oct 2017

See all articles by Dyana Sari

Dyana Sari

University of Tribhuwana Tunggadewi

Date Written: 2014

Abstract

Indonesian Abstract: Gula merupakan salah satu bahan pangan pokok penting setelah beras. Perkembangan produksi gula saat ini belum dapat memenuhi permintaan gula domestik sehingga pemerintah memenuhi kekurangan kebutuhan tersebut melalui impor. Kondisi saat ini, luas areal tebu 469 ribu hektar , dengan produksi 2,6 juta ton, sementara kebutuhan impor terus meningkat hingga mencapai 4 juta ton pada 2013. Berdasarkan fakta ini, maka dilaksanakan penelitian agar pemerintah dapat menemukan cara dalam memenuhi kebutuhan gula sehingga tidak bergantung kepada impor yang berkepanjangan. Usaha swasembada gula di Indonesia menghadapi berbagai masalah serius karena kurangnya peluasan areal tanam tebu, rendahnya produksi dalam rangka memenuhi permintaan gula, tingkat rendemen yang rendah, produktivitas yang belum optimal dan lain-lain. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk : (1) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja ekonomi pergulaan Indonesia. (2) Menganalisis alternatif-alternatif kebijakan peningkatan produksi gula dan memperbaiki perekonomian pergulaan di Indonesi Penelitian ini menggunakan model ekonometrika dengan system persamaan simultan menggunakan data 1982 – 2013. Pendugaan model dilakukan dengan metode Two Stage Least Squares. Dalam penelitian ini membahas fungsi respon dari variabel – variabel eksogen yang terlibat terhadap variabel endogennya dan simulasi kebijakan untuk memperoleh alternatif terbaik dalam upaya mencapai swasembada gula. Luas areal tebu (Lt) dipengaruhi secara positif oleh harga gula (Pg) dan luas areal tebu pada tahun sebelumnya. Sedangkan permintaan gula Indonesia (Dg) dipengaruhi secara negatif oleh harga gula (Pg), secara positif oleh populasi (Pop), secara negatif oleh tingkat pendapatan (ini) dan secara positif oleh permintaan gula pada tahun sebelumnya. Impor gula Indonesia (Mg) dipengaruhi secara positif oleh selisih permintaan gula (Dg) dan produksi gula Indonesia (Qg)) dan secara positif oleh impor gula pada tahun sebelumnya.. Harga gula domestik (Pg) dipengaruhi secara positif oleh harga gula dunia (PWg), nilai tukar Rupiah terhadap USD (ERI), Nominal Rate of Protection (NRP), Harga Pokok Petani tebu (HPP) dan harga gula pada tahun sebelumnya (Pg1) . Fungsi respon yang dapat diambil sebagai referensi dalam mengambil kebijakan adalah fungsi respon luas areal tebu (Lt), fungsi respon permintaan gula (Dg), fungsi respon impor gula (Mg) dan fungsi respon harga gula (Pg). Hasil simulasi dalam rangka menghasilkan kebijakan gula menuju swasembada gula adalah sebagai berikut : a. Simulasi Luas tebu naik 20 % menghasilkan produksi tebu dan gula naik 19,8 % dan impor gula turun 9,37 % b. Simulasi bongkar ratun menghasilkan kenaikan rendemen 6 %, produksi gula 5,78 persen dan impor gula turun 2,73 %. c. Simulasi HPP naik 30 % membawa dampak terhadap kenaikan harga gula 14 persen, produksi tebu dan gula naik 14,7 % dan luas areal naik 2,13%. d. Simulasi adanya kenaikan harga Urea 50 % kurang memberi hasil baik karena produktivitas tebu, produksi tebu dan gula hanya naik kurang dari 2 persen. e. Simulasi suku bunga turun menjadi 6 % /tahun bagi petani tebu menghasilkan kenaikan luas areal tebu 2,58 %, produktivitas tebu naik 6,43 persen, produksi gula dan tebu naik 9 %. f. Simulasi rendemen naik 11 % akan menghasilkan kenaikan luas areal tebu 19,89 persen, produksi tebu dan gula akan naik 19,8 %. g. Simulasi produktivitas naik 20 % menghasilkan kenaikan produksi tebu dan gula sebesar 19,8 %, impor gula turun 9,37 %. h. Simulasi serentak (a b c d e f g) menghasilkan kenaikan luas areal tebu 19,7 %, produktivitas tebu naik 19,8 %, rendemen tebu naik 6,12 persen, produksi tebu naik 43,37 %, produksi gula naik 51,71 %, impor turun 25 %. Simulasi kebijakan yang memberi output paling baik adalah simulasi serentak, yakni dilakukannya kebijakan secara bersama-sama dan terintegrasi dalam pergulaan nasional. Namun demikian, simulasi serentak pun ternyata belum bisa menghasilkan kondisi pencapaian swasembada gula oleh karena diduga adanya faktor-faktor lain yang turut mempengaruhi pencapaian swasembada gula. . Dari hasil penelitian ini disarankan agar Pemerintah memberi kebijakan dengan hasil paling baik, yakni kebijakan serentak dengan mengimplementasikan kebijakan secara bersama sama, yakni : peningkatan luas areal tebu ditingkatkan 20 %, bongkar ratun tetap dilaksanakan setiap tahun, Harga Pokok Petani dinaikkan 30 %, penurunan harga pupuk Urea 50 %, penurunan suku bunga bank bagi petani tebu menjadi 6 % per tahun, tingkat rendemen ditargetkan mencapai 11 persen, dan diupayakan agar produktivitas naik 20 %.

English Abstract: Sugar is one of the most important staple food after rice in Indonesia.

Currently, the development of its production cannot fulfill the demand of sugar in the country, so the government absorbs the lack of sugar by import. The position Indonesia's sugar in meantime is, sugarcane field is 469 thousand hectares, with its production of 2.6 million tons, while the need of sugar has been increasing up until 4 million tons on 2013. Base of this fact, government has been trying to fulfill sugar need as well as self-sufficiency of sugar so that makes no depending on continued sugar importing.

The way to reach self-sufficiency of sugar in Indonesia has been heading many serious problems because of limited land to extend sugarcane field, low of production in order to fulfill the demand of sugar, low sucrose of content in sugarcane, old sugar plantations, low productivity and others. That is the reason to hold in purpose of: (1) Finding alternatives of sugar policies towards sugar self-efficiency of sugar, (2) Analyzing factors which influence the sugar economics productivity in the country, (3) Analyzing the impact of external shocks toward sugar economical productivity in Indonesia, (4) Analyzing alternatives of policy to increase sugar production.

This research is used econometrics model through simultaneous system of functions with time series data of 1982–2013. Estimated model was conducted by Two Stage Least Squares method.

The result of this research are listed as follows: (1) Sugarcane field (Lt) is influenced positively by price of sugar (Pg) and the previous of sugarcane field (Lt1), (2) Indonesian sugar demand (Dg) is negatively influenced by sugar price (Pg), positively influced by population (Pop), negatively by income level (ini) and positively influenced by previous sugar demand(Dg1), (3) Indonesian sugar import is positively influenced by the difference between sugar demand (Dg) and sugar production (Qg), and last year sugar import (Mg1), (4) Domestic sugar price (Pg) is positively influenced by world sugar price (Pw), exchange rate of Rupiah towards USD (ERI), Nominal Rate of Protection (NRP), sugarcane floor price (HPP), and previous sugar price (Pg1). Response functions give good response are response function of sugarcane field (Lt), response function of sugar demand (Dg), response function of sugar import (Mg) and response function of sugar price (Pg).

Simulation results which are able to consider in making policy:

a. If sugarcane increases 20%, then sugarcane and sugar will raise 19,8 % and sugar import will reduce 9,37% b. If ratooning conducts every year, it will improve of sugar content 6%, sugar production 5.78% and sugar import will reduce 2.73%. c. If the sugar floor price adds to 30%, it will lift sugar price 14%, both sugarcane and sugar production 14.7% and sugarcane field 2.13%. d. If Urea price decreases 50%, it will only impact to enlarge production of sugarcane and sugar less 2%, showing that this instrument is not effective if it is done solely. e. If lending interested rate offers to sugarcane farmers 6%/year, it will improve to sugarcane field 2.38%, sugarcane productivity improves 6,43 percent, sugarcane and sugar production will raise 9%. f. If sugar content can reach 11%, sugarcane field will expand 19,89 %, sugarcane and sugar production will raise 19,8%. g. If productivity goes up 20%, sugarcane and sugar production will grow 19,8 percent, and import decreases 9,37%. h. If all instruments works together (a b c d e f g), it will get higher of sugarcane field 19,7%, sugarcane yield 19,8%, sugar content increases 6,12%, sugarcane production improves 43,37%, sugar production increases 51,71%, and sugar import decreases 25%.

The best outcome is when all instruments works together, but it is still difficult to reach self-sufficiency as it is predicted there are other factors influence in the sugar economy.

It is recommended that government implements the best policy, that is all instruments works together: sugarcane field increases 20%, ratooning conducts every year, sugar floor price increases 30%, Urea price decreases 50%, lending interest rate is 6% per year, sugar content reaches 11 persen, and the yield gets higher 20%.

Keywords: Gula, Tebu, Kebijakan, Swasembada, Skenario; sugar, self-sufficiency, indonesia, policy, scenario

JEL Classification: Q13, Q18, Q11, Q16, Q17, E

Suggested Citation

Sari, Dyana, (Analisis Skenario Kebijakan Swasembada Gula Indonesia) Indonesian Sugar Self-Sufficiency Policy Scenario Analysis (2014). Available at SSRN: https://ssrn.com/abstract=3045657 or http://dx.doi.org/10.2139/ssrn.3045657

Dyana Sari (Contact Author)

University of Tribhuwana Tunggadewi ( email )

Jalan Telaga Warna Blok C, Tlogomas
Malang, East Java 61655
Indonesia
+6281327296424 (Phone)

Here is the Coronavirus
related research on SSRN

Paper statistics

Downloads
55
Abstract Views
574
rank
401,076
PlumX Metrics